Percaya Diri
Pengertian Kepercayaan Diri. Dalam bahasa gaul harian, pede yang kita maksudkan adalah percaya diri. Semua orang sebenarnya punya masalah dengan istilah yang satu ini
Proposal Warnet
Nhah ...kali ini saya pengen berbagi file nih ...file ini saya buat waktu dikasih tugas sama Pak Guru mengerjakan Proposal yang nantinya juga di presentasikan.
10 Tempat Yang Tidak Bisa/sulit Kamu Kunjungi
Berikut ini adalah beberapa tempat yang sulit ataupun tidak bisa dikunjungi
Showing posts with label Kisah Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Kisah Motivasi. Show all posts
Monday, June 1, 2015
Monday, June 23, 2014
China - Lulusan SD Membuat Kapal Selam di Rumahnya
Tao Xiangli, seorang penemu amatir 34 tahun dari Cina, menghabiskan dua tahun membangun kapal selam buatan sendiri berfungsi secara penuh. Tao bukanlah orang pertama untuk membangun sebuah kapal selam buatan sendiri, tapi itu tidak membuat prestasinya pun kurang mengesankan. Terutama karena ia melakukannya dengan menggunakan barel minyak dan alat-alat yang dibeli dari pasar barang bekas.
Setelah dua tahun kerja keras dan pengujian, pada tanggal 3 September, muda Tao Xiangli disajikan penemuannya ke dunia dan mengambilnya untuk menyelam tes di sebuah danau di luar Beijing. Nya kapal selam buatan sendiri memiliki periskop, motor listrik, manometer, dua baling-baling, tank kedalaman-kontrol dan hanya biaya $ 4.385.
Setelah dua tahun kerja keras dan pengujian, pada tanggal 3 September, muda Tao Xiangli disajikan penemuannya ke dunia dan mengambilnya untuk menyelam tes di sebuah danau di luar Beijing. Nya kapal selam buatan sendiri memiliki periskop, motor listrik, manometer, dua baling-baling, tank kedalaman-kontrol dan hanya biaya $ 4.385.
Thursday, June 19, 2014
Mahasiswi cantik anak petani ini lulus dengan IPK tertinggi, kalahkan Raeni?
Setelah Raeni dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), kini ada satu mahasiswi asal Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo yang berprestasi, Angga Dwituti Lestari.
IPK Angga Dwi Tuti Lestari bahkan mampu mengalahkan IPK yang diperoleh Raeni yang sebesar 3,96. Perempuan kelahiran Sleman 21 Februari 1992 ini lulus dengan IPK 3,98. Yang lebih mencengangkan, Eng -demikian dia biasa dipanggil- merupakan putri dari seorang petani.
Raut wajah gembira terlihat saat Okezone menghampiri anak kedua dari dua bersaudara pasangan Supriyanto dan Sugiyanti yang tinggal di Cibuk Lor I, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Yogyakarta ini di ruang Humas Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, Selasa (17/6/2014).
Kegembiraan tersebut dikarenakan Eng mampu mewujudkan impian orangtuanya untuk bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Eng merupakan mahasiswi Fakultas MIPA. Eng merupakan mahasiswi program studi Biologi Fakultas MIPA UNS angkatan 2010 yang diterima, dan mendapatkan beasiswa bidikmisi.
"Ayah saya seorang petani. Ibu saya lulus SD saja tidak. Terus terang pada mulanya saya bingung kalau mau melanjutkan sekolah uang dari mana. Untungnya saya dapat bidikmisi," papar Eng mengawali ceritanya kepada Okezone, di Kampus UNS Solo, Jawa Tengah.
Meskipun Eng mendapatkan bidikmisi, dirinya mengaku tak bisa hanya berdiam diri saja. Untuk menghidupi biaya sehari-hari selama berkuliah di Kota Solo, pada awal semester, Eng bekerja sebagai guru les. Namun pekerjaan tersebut hanya dia lakukan pada semester awal saja, sebab beasiswa bidikmisi yang didapatkannya sudah cukup membantu.
Eng pun akhirnya memutuskan untuk merintis usaha kecil-kecilan. Begitu dia mendapat beasiswa Bidikmisi, beasiswa tersebut dia gunakan untuk merintis usaha jus organik. Pelan namun pasti, usaha jus organik yang dirintis di kampung halamannya, yaitu di Yogya berjalan cukup sukses.
"Setiap bulan saya menabung Rp100 ribu. Setelah terkumpul Rp1 juta saya gunakan untuk buka usaha itu. Bahkan saya mampu menyewa tempat kecil-kecilan di depan SMP 1 Godean," ujar perempuan lulusan SMA 1 yogyakarta ini.
Meskipun kepadatan kuliah, ditambah usaha jus organik yang dijalaninya, tak mengganggu waktunya untuk berkuliah. Selama kuliah di UNS, Eng selalu mendapatkan IPK 4,0 di setiap semesternya. Hingga akhirnya, Eng mendapatkan kepercayaan penuh mewakili Indonesia dalam pertemuan World Student Environment Summit yang diikuti 34 negara di Jerman pada 2013 lalu.
Sebenarnya Eng sudah di wisuda pada Februari lalu. Namun karena dirinya mengalami kecelakaan sepeda motor saat bersama saudaranya, maka Eng memutuskan menunda wisudanya. Baru pada Maret, Eng resmi diwisuda.
"Untungnya waktu kecelakaan itu saya tidak apa-apa. Hanya saudara saya yang luka. Karena itulah saya menunda wisuda saya. Tidak enak lihat saudara sakit, masak saya nekat untuk wisuda," paparnya.
IPK Angga Dwi Tuti Lestari bahkan mampu mengalahkan IPK yang diperoleh Raeni yang sebesar 3,96. Perempuan kelahiran Sleman 21 Februari 1992 ini lulus dengan IPK 3,98. Yang lebih mencengangkan, Eng -demikian dia biasa dipanggil- merupakan putri dari seorang petani.
Raut wajah gembira terlihat saat Okezone menghampiri anak kedua dari dua bersaudara pasangan Supriyanto dan Sugiyanti yang tinggal di Cibuk Lor I, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Yogyakarta ini di ruang Humas Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, Selasa (17/6/2014).
Kegembiraan tersebut dikarenakan Eng mampu mewujudkan impian orangtuanya untuk bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Eng merupakan mahasiswi Fakultas MIPA. Eng merupakan mahasiswi program studi Biologi Fakultas MIPA UNS angkatan 2010 yang diterima, dan mendapatkan beasiswa bidikmisi.
"Ayah saya seorang petani. Ibu saya lulus SD saja tidak. Terus terang pada mulanya saya bingung kalau mau melanjutkan sekolah uang dari mana. Untungnya saya dapat bidikmisi," papar Eng mengawali ceritanya kepada Okezone, di Kampus UNS Solo, Jawa Tengah.
Meskipun Eng mendapatkan bidikmisi, dirinya mengaku tak bisa hanya berdiam diri saja. Untuk menghidupi biaya sehari-hari selama berkuliah di Kota Solo, pada awal semester, Eng bekerja sebagai guru les. Namun pekerjaan tersebut hanya dia lakukan pada semester awal saja, sebab beasiswa bidikmisi yang didapatkannya sudah cukup membantu.
Eng pun akhirnya memutuskan untuk merintis usaha kecil-kecilan. Begitu dia mendapat beasiswa Bidikmisi, beasiswa tersebut dia gunakan untuk merintis usaha jus organik. Pelan namun pasti, usaha jus organik yang dirintis di kampung halamannya, yaitu di Yogya berjalan cukup sukses.
"Setiap bulan saya menabung Rp100 ribu. Setelah terkumpul Rp1 juta saya gunakan untuk buka usaha itu. Bahkan saya mampu menyewa tempat kecil-kecilan di depan SMP 1 Godean," ujar perempuan lulusan SMA 1 yogyakarta ini.
Meskipun kepadatan kuliah, ditambah usaha jus organik yang dijalaninya, tak mengganggu waktunya untuk berkuliah. Selama kuliah di UNS, Eng selalu mendapatkan IPK 4,0 di setiap semesternya. Hingga akhirnya, Eng mendapatkan kepercayaan penuh mewakili Indonesia dalam pertemuan World Student Environment Summit yang diikuti 34 negara di Jerman pada 2013 lalu.
Sebenarnya Eng sudah di wisuda pada Februari lalu. Namun karena dirinya mengalami kecelakaan sepeda motor saat bersama saudaranya, maka Eng memutuskan menunda wisudanya. Baru pada Maret, Eng resmi diwisuda.
"Untungnya waktu kecelakaan itu saya tidak apa-apa. Hanya saudara saya yang luka. Karena itulah saya menunda wisuda saya. Tidak enak lihat saudara sakit, masak saya nekat untuk wisuda," paparnya.
sumber : http://kampus.okezone.com/
Sunday, July 7, 2013
( Renungan kemerdekaan ) Cerita Sedih Veteran Indonesia .!!!!
Langsung aja . , kita ngerasa miris banget kalo liat veteran perang indonesia yang hidupnya susah . , rumahnya mau digusur , kerja jadi petugas kebersihan atau yang bekerja tidak sesuai dengan jasa mereka pada saat dahulu ..
Padahal jasa dan perjuangan. mereka dahulu berat sekali . , mereka ga dibayar, mereka berjuang sukarela , tanpa mengharapkan uang atau apapun . , tapi sekarang mereka malah ga dihargai . , mereka dibuang oleh orang diatas sana , mereka terlupakan oleh jaman , padahal tanpa mereka saat ini indonesia belum tentu kita bisa merasakan udara segar dari penjajah ,
satu hal yang kita sesalkan dari pemerintahan kita , bandingkan veteran dari negara lain , mereka hidup makmur , dapet tunjangan., kesehatan dan yang paling penting penghargaan dari pemerintahan nya yang mengakui jasa-jasa mereka dahulu ,,
sedangkan di negara kita , para veteran tersebut tidak dihargai dan jasanya dilupakan , miris sekali . , kita emang bukan orang berjiwa patriot atau orang yang sok bela negara, cuman kita ngerasa prihatin aja . sama negara kita , pahlawan yang sangat berjasa untuk negara, sama sekali tidak dihargai , padahal tanpa mereka tak akan ada kemerdekaan yang kita rasakan sekarang .
tapi generasi indonesia seakan tidak menghargai perjuan. pahlawan kita , dibuktikan den. adanya korupsi , yang semakin lama semakin menjadi parasit di negara kita , mereka hidup bermewah-mewahan , tak perduli terhadap pahlawan nya , rakyat nya , dan negaranya , yang mereka pikirkan hanyalah uang dan kekuasaan ,
Hargai lah Pahlawan Negeri Kita.
sumber : http://pulsk.com
BLSM Rp 150 Ribu Cuma Dapat 5 Bungkus Mi Instan di Papua
JAKARTA - Pengamat Ekonomi dari Econit, Hendri Saparini, heran dari mana dan seperti apa perhitungan pemerintah menggelontorkan bantuan langsung sementara masyaraat (BLSM) sebesar Rp 150 ribu per bulan untuk warga miskin.
"Itu perhitungannya bagaimana," kata Hendri dalam "Dialog Kenegaraan" di gedung DPD/DPR RI Jakarta, Rabu (19/6/2013).
Dia menegaskan harga barang dan jasa di daerah berbeda-beda. Jika di Jawa umumnya uang sebesar Rp 150 ribu bisa untuk membeli sejumlah kebutuhan pokok maka tidak demikian halnya di daerah lain seperti di Papua misalnya dimana harga barang dan kebutuhan pokok mahal. Misalnya dengan Rp 150 ribu mungkin hanya untuk 5 bungkus mi instan.
"Ini kok perhitunganya disamakan dari Sabang sampai Merauke," kata dia.
Demikian pula, Hendri Saparini mempertanyakan hitungan inflasi BPS yang dipakai sebagai acuan besaran BLSM.
"Kalau perhitungan inflasi 5 persen yang dipakai BPS itu salah besar apalagi kalau ini sasarannya orang miskin sebab inflasi orang miskin 2 atau 3 kali lipat inflasi rata-rata. Jadi karena bagi orang miskin harusnya hitungan inflasi makanan bukan yang lain," kata dia.
Meurut dia, BLSM ini sekadar sedekah bagi orang miskin yang disebut pemerintah sebagai kompensasi atas kenaikan harga BBM.
"Tapi sedekah BLSM Ini tidak membantu hanya untuk mengkompensasi. Nah 4 bulan pemberian BLSM ini apa setelah itu masyarakat bisa mengkompensasi diri sendiri. Apakah setelah 4 bulan itu harga barang akan turun?" kata Hendri Saparini.
Diberitakan sebelum pemerintah akan membagikan BLSM Rp 150 ribu kepada kurang lebih 15 juta warga miskin di Indonesia sebagai kompensasi atas rencana kenaikan harga BBM. BLSM ini akan dibagikan mulai Juli selama 4 bulan.(tribunnews/19/6/13)
sumber : http://pulsk.com
Miris... kisah haru cewek cantik yang jadi pengemis
Pengemis cantik ini memiliki sebuah kisah sedih dan tragis menghentak publik Cina. Seorang gadis cantik bernama Loli di Beijing tiba-tiba jatuh miskin dan menjadi pengemis setelah keluarganya terlilit utang 100,000 yuan kepada lintah darat. Lebih sedihnya lagi, untuk menembus uang itu, Loli menjual keperawanannya. Kisah ini terungkap berkat seorang reporter yang tanpa sengaja menemukan Loli tengah berada di emperan toko saat sedang mengamen untuk mendapatkan recehan dari belas kasihan orang. Reporter ini terkejut bukan main setelah melihat wajah sang pengemis wanita ternyata sangat cantik dan imut Yang lebih mengejutkan lagi, wanita itu memakai jaket Adidas dan kontak lens. Dilanda rasa penasaran, reporter itu kemudian melacak tempat tinggalnya di sebuah kawasan rumah kumuh dan berhasil menjepret rumahnya.
Sontak saja, berita ini langsung menyebar ke seluruh Cina dan mendapat perhatian serius dari publik Cina. Belakangan diketahui, gadis ini bernama Han Biyao dan pernah bekerja sebagai waitress. Untuk menyambung hidupnya dan membantu biaya pengobatan ibunya yang sedang sakit, Biyao menjadi musisi jalanan.
sumber: http://pulsk.com
Monday, April 29, 2013
Hidup Bocah Polos Zhang Da Menginspirasi Banyak Orang
![]() |
| Zhang Da |
Zhang Da harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia. Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, Zhang Da harus menerima kenyataan ibunya lari dari rumah. Sang ibu kabur karena tak tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya. Yang lebih tragis, si ibu pergi karena merasa tak sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tak berdaya, dan tanpa harta. Dan ia tak mau menafkahi keluarganya.
Maka Zhang Da yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga. Ia harus mengurus ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang ayah, mencuci pakaian, mengobatinya, dan sebagainya.
Yang patut dihargai, ia tak mau putus sekolah. Setelah mengurus ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu. Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur-jamur untuk berhemat. Tak semua bisa jadi bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalaman. Ketika satu tumbuhan merasa tak cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut. Sangat beruntung karena ia tak memakan dedaunan atau jamur yang beracun.
Usai sekolah, agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah, Zhang Da bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu. Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari.
Zhang Da ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tak hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan. Karena tak mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntik. Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah.
Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun. Rupanya kegigihan Zhang Da yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat. Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional. Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama Zhang Da. Ternyata ia menjadi pemenang termuda.
Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televisi secara nasional. Zhang Da si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak. “Hidup harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan. Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab,” katanya.
Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus. Pembawa acara menanyainya lagi. “Zhang Da, sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan. Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah dan mau kuliah di mana. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” papar pembawa acara.
Zhang Da terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya. Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. “Sebut saja!” katanya menegaskan.
Zhang Da yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar. Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan Zhang Da. “Saya mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!” kata Zhang Da yang disambut tetesan air mata haru para penonton.
Zhang Da tak meminta hadiah uang atau materi atas ketulusannya berbakti kepada orangtuanya. Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya. Di mata Zhang Da, mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu dan kasih sayangnya, itu tak ternilai.
Pelajaran moral yang tampak sederhana, tetapi amat bermakna. Setuju kan?
sumber: http://bambangsuhartono.wordpress.com/2013/02/09/kisah-nyata-hidup-bocah-polos-zhang-da-menginspirasi-banyak-orang/

4:10 AM
Unknown












